Mahasiswa Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM) Kelompok 58 Multidisiplin Universitas Islam Negeri (UIN) Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo menggelar kegiatan sosialisasi dan pelatihan pemberdayaan masyarakat di Dusun Kedalon, Desa Ngrukem, Kecamatan Mlarak, Kabupaten Ponorogo. Kegiatan yang melibatkan puluhan warga setempat ini berfokus pada integrasi nilai ekoteologi dan inovasi pembuatan briket dari limbah bonggol jagung guna memaksimalkan potensi sisa hasil panen pertanian yang selama ini terabaikan.

Mayoritas penduduk Dusun Kedalon berprofesi sebagai petani, dengan jagung sebagai salah satu komoditas utama. Sayangnya, pasca-panen, limbah bonggol jagung kerap kali hanya dibiarkan menumpuk di ladang atau dibakar secara terbuka. Hal ini tidak hanya membuang potensi nilai guna limbah, tetapi juga berisiko mencemari lingkungan sekitar.
Berangkat dari kondisi tersebut, Kelompok 58 KPM MULTIDISIPLIN UIN Kiai Ageng Muhammad Besari hadir membawa solusi melalui pendekatan “Ekoteologi”. Dalam sesi materi, Muhammad Nafis Selaku pemateri memberikan pemahaman bahwa menjaga kelestarian lingkungan bukan sekadar urusan duniawi, melainkan bagian dari ibadah dan tanggung jawab manusia sebagai khalifah (pemimpin) di bumi. Alam beserta isinya adalah titipan Tuhan yang harus dikelola dengan bijak, bukan sekadar dieksploitasi tanpa pertanggungjawaban.

Sebagai manifestasi nyata dari nilai ekoteologi tersebut, kegiatan dilanjutkan dengan praktik langsung (demonstrasi) pembuatan briket sederhana dari bonggol jagung yang lebih ramah lingkungan. Turut diundang pula salah seorang pengusaha Briket Asal desa Wates Kecamatan Jenangan Bapak Dimas Eko Sulistyo Putra yang menyampaikan pengalaman serta informasi seputar Briket dan pemasarannya selama beliau menjadi seorang pengusaha Briket yang telah berhasil memasarkan produknya dari konsumen lokal hingga manca negara, tidak lupa beliau juga menjelaskan kepada Warga Dusun Kedalon langkah demi langkah mengolah bonggol jagung yang tidak berharga menjadi bahan bakar alternatif bernilai ekonomi.
Proses pembuatan briket ini dinilai cukup sederhana dan dapat dilakukan dengan alat seadanya di rumah. Tahapannya dimulai dari proses karbonisasi (pengarangan) bonggol jagung, penumbukan hingga menjadi serbuk halus, pencampuran serbuk dengan bahan perekat alami seperti tepung tapioka (kanji), hingga proses pencetakan dan penjemuran di bawah sinar matahari hingga kering sempurna.
Briket dari bonggol jagung ini memiliki sejumlah keunggulan dibandingkan kayu bakar konvensional. Selain nyala apinya lebih stabil dan tahan lama, briket ini juga menghasilkan asap yang jauh lebih sedikit, sehingga lebih aman bagi pernapasan saat digunakan untuk memasak.
“Kami berharap melalui pendekatan ekoteologi, kesadaran masyarakat untuk menjaga lingkungan semakin meningkat. Bonggol jagung yang tadinya dianggap sampah tak berguna, ternyata jika disentuh dengan sedikit inovasi bisa menjadi energi alternatif yang memiliki nilai jual,” Ungkap Munifatul Khasanah selaku Ketua Pelaksana dalam sambutannya.

Antusiasme warga Dusun Kedalon terlihat dari keaktifan mereka saat sesi tanya jawab dan praktik pencetakan briket. Tokoh masyarakat setempat menyambut baik inisiatif mahasiswa ini, karena memberikan wawasan baru yang sangat aplikatif bagi keseharian warga desa.
” Kami menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya atas terselenggaranya kegiatan Sosialisasi Ekoteologi dan Pelatihan Pembuatan Briket di Desa Ngrukem yang di prakarsai teman- teman KPM UIN. Muhammad Besari Ponorogo. Kegiatan ini merupakan langkah nyata dalam meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga kelestarian lingkungan sekaligus memanfaatkan limbah menjadi produk yang bernilai guna. Pelatihan pembuatan Briket sangat bermanfaat karena memberikan pengetahuan dan keterampilan praktis kepada masyarakat untuk mengolah bahan sisa atau limbah organik menjadi sumber energi alternatif yang lebih ramah lingkungan dan ekonomis. Program seperti ini tidak hanya berdampak pada pengurangan limbah, tetapi juga berpotensi mendukung ketahanan energi rumah tangga dan membuka peluang usaha masyarakat.” Ujar Bapak Muhammad Amin Abdurrois selaku Carik Desa Ngrukem.
Melalui kegiatan sosialisasi ini, diharapkan warga Dusun Kedalon, Desa Ngrukem, dapat lebih mandiri dalam mengelola limbah pertaniannya. Ke depannya, pemanfaatan bonggol jagung menjadi briket tidak hanya diharapkan mampu menjaga kebersihan lingkungan desa, tetapi juga berpotensi membuka peluang Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) baru yang dapat mendongkrak taraf perekonomian masyarakat setempat.

Penulis Redaksi : Muhammad Nafis Abdul Majid & TIM Kelompok 58 KPM Multidisiplin Desa Ngrukem Kecamatan Mlarak Kabupaten Ponorogo UIN Kiai Ageng Muhammad Besari